Saturday, March 15, 2008

Woman Self Defense of Kushin Ryu

Apa itu WOMEN SELF DEFENSE OF KUSHIN RYU (WSDK)?


Women Self Defense of Kushin Ryu (WSDK) merupakan bagian dari pertanggungjawaban sosial Kushin Ryu M Karate-do Indonesia (KKI) Dojo Kopo, dalam menyikapi makin tingginya tindakan kekerasan terhadap perempuan. Berdasarkan data yang dimiliki Komnas Perempuan, kasus tindakan Kekerasan Terhadap Perempuan (KTP) dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup mencolok. Pada tahun 2001 setidaknya terjadi 3.169 kasus hingga tahun 2007 saja, jumlah kasus makin tinggi hingga mencapai Data tahun 2007 menunjukkan adanya 25.522 kasus kekerasan terhadap perempuan (KTP) yang ditangani oleh 215 lembaga,
termasuk institusi penegak hukum, rumah sakit dan organisasi masyarakat pengada layanan.

Atas dasar itulah WSDK lahir. Digagas oleh Sensei H. Sofyan Hambally, penyandang DAN VI Karatedo Int, dengan memberikan pelatihan kepada sejumlah perempuan dari beragam latar belakang di Kota Bandung, Jawa Barat. Sejak dibentuk pada tahun 2007 lalu, WSDK telah meluluskan lebih dari 200 perempuan.

Program pelatihan beladiri praktis WSDK dikemas semudah mungkin. Sehingga memungkinkan para perempuan dari strata usia bisa menerima pelatihan dengan sangat mudah. Teknik yang diberikan adalah teknik- teknik yang sangat praktis namun mematikan. Dirancang khusus perempuan dalam upaya memberi daya kejut kepada para pelaku, sehingga mampu menghindari kondisi yang lebih buruk.

Inilah saatnya perempuan menunjukan kekuatannya. Seperti motto WSDK, "Lembut bukan berarti lemah, dalam kelembutan tersimpan kekuatan."

Maksud dan Tujuan

Memberikan pengetahuan terhadap perempuan seluasluasnyamengenai beladiri praktis sebagai bentengpertahanan diri

Membangun rasa kepercayaan diri dan motivasi perempuanuntuk melatih kemampuan dirinya

Pemberdayaan diri dalam menghadapi tindakan kekerasandan atau pelecehan seksual terhadap kalangan perempuan

Memberikan pembekalan mental terhadap kaum perempuandalam hal menghadapi kejahatan di lingkungan sekitar(kantor, jalan, angkutan kota) dan lokasi lainnya.


WSDK
Jl. Kopo Cetarip Timur II No. 4 Bandung 40234, Jawa Barat, Indonesia
Telp: (022) 5208219
e-mail: wsdk_bandung@yahoo.co.id

NEWS :
http://ads2.kompas.com/layer/wsdk/wsdk.html

Monday, February 18, 2008

Profil Soke Kiyotada Sannosuke Ueshima


Pendiri KUSHIN RYU Karate Do adalah Kiyotada Sannosuke Ueshima yang lahir pada tahun 1893 di wilayah Hyogo (Kobe) , di Kota Akou - Jepang.
Setelah berusia 3 tahun ia mulai belajar seni beladiri (aliran Konshin Yujoyutsu) di Akademi Matsubara di Kota Akou dibawah bimbingan guru Kiyotaka Kajei Matsubara.

Menginjak usia 9 tahun ia mulai mengenal Tuan Sugaya atau Jigaya. Seorang pegawai kepolisian di kota Akou, ia seorang penduduk asli Okinawa. Dari dialah Ueshima mulai belajar bentuk-bentuk Karate Kata Channan dan Kata Kushanku (Kata Channan merupakan dasar Kata Pian yang diciptakan Ankou Itosu , salah satu kata orisinil yang dikembangkan dan dirubah menjadi KATA PIAN).

Pada tahun 1918, saat berusia 25 tahun, Ueshima menerima gelar secara serempak sebagai ahli aliran Konshin Yujoyitsu dari tangan Guru Matsubara dan guru Guikyo Masazi Akada sebagai Guru terakhirnya dan juga guru dari Matsubara sendiri.

Kemudian, Ueshima pindah ke kota Osaka, disana ia mulai membuka Akademi Konshin – Ryu Yujoyitsu.

Pada dekade awal abad ke 20, beberapa guru karate tiba di Okinawa di kota Osaka, bersama-sama mereka, Ueshima mempelajari dan mempraktikan cabang beladiri ini .

Mereka adalah :

1, Choki Motobu, mengajar Aliran Tomari-Ja .
2, Kanamori Kinzyo, mengajar aliran Shorin and Goju.
3, Choshin Chibana, pendiri dan guru aliran Shorin .

Pada tahun 1932 Ueshima mendirikan Aliran Karate Kushin Ryu, ini merupakan hasil dari penggabungan aliran Konshin-Ryu Yujoyitsu dengan unsur-unsur Karate yang ia tambahkan didalamnya.

Pada tahun 1895 Organisasi Beladiri Jepang yang pertama didirikan disebut Dai Nippon Butokukai (Great Japan Martial Virtue Association).

Pada tahun 1933, Ueshima menerima gelar Guru JUDO (KYOSHI) dari Association of Martial Virtue of the Great Japan.

Juga pada tahun 1935 dan untuk pertama kalinya di Jepang, Dewan Asosisasi Beladiri Jepang yang terhormat menganugerahi dia gelar Guru Karate (KYOSHI) dengan dua orang lainnya. Para guru yang menerima tanda kehormatan pada kesempatan itu adalah :

1, Choyun Miyagi ( Pendiri aliran Goju )
2, Kiyotada Sannosuke Ueshima ( Pendiri Aliran Kushin )
3, Yasuhiro Konishi ( Pendiri Aliran Shindo Shizen)

Pada tahun 1946 akhir yaitu perang Dunia ke II terjadi pembubaran Dai Nippon Butokukai (Great Japan Martial Virtue Association)

Pada tahun 1965, beliau menerima gelar Dan 8 Judo Kodokan, Guru Kanamori Kinzyo , guru aliran Shorin dan Goju dan Guru karate Ueshima, kembali ke Okinawa disana dan ia mengembangkan Aliran Kushin.

Pada tahun 1940 Guru Kinzyo menerima gelar Guru Karate (RENSHI) dari Dai Nippon Butokukai (Great Japan Martial Virtue Association)

Pada tanggal 6 September 1987, pada usia 94 tahun, Kiyotada Sannosuke Ueshima, pendiri Kushin Ryu, meninggalkan para murid untuk selama-lamanya di kota Osaka. Saat ini President (Soke) kedua Kushin Ryu saat ini dipimpin oleh Ph. Dr HORYUU MATSUZAKI.


(english version)

His founder was teacher KIYOTADA SANNOSUKE UESHIMA, born in 1893 in the prefecture of Hyogo (Kobe), in the city of Akou. To the three years he began practices it of the martial arts (Jujitsu, Style Konshin Yujoyitsu) in the Academy of Matsubara of the city of Akou, being his professor Kiyotada Kajei Matsubara. At the age of nine years he knew Mr. Sugaya or Jigaya, a police of the city of Akou, that was native of the city of Okinawa. With he learned and practice the forms of Karate Kata Channan and Kata Kushanku (the Kata Channan is the base of the Kata Pian being the teacher Ankou Itosu the one that improve and change the original Kata becoming the Kata Pian). In 1918, to the 25 years of age, Ueshima received title of professional of the Style Konshin Yujoyitsu of hands of professor Matsubara and of professor Guikyo Mazai Akada, being this complete his professor and of professor Matsubara simultaneously. Later, Ueshima transfer to the city of Osaka, where it opened the academy Konshin-Ryu Yujoyitsu, as like a traumatologيa doctor's office. In the decade one of the 20, several teachers of Karate arrived from Okinawa at the city of Osaka, and with them the Ueshima teacher practice this branch of the martial arts. Their professors were: Choki Motobu, that taught the Tomari-Ja style. Kanamori Kinzyo, that taught the styles Shorin and Goju. Choshin Chibana, founder and professor of the Shorin style. In 1932 the Ueshima teacher found the style of Karate Kushin Ryu, result of the union of the Konshin-Ryu with elements of the Karate that the teacher add. On 1895 the first organization of martial art of Japan had been based, call Association of Martial Virtue of the Great Japan. In 1933 the Ueshima teacher received title of professor of Judo (KYOSHI) of the Association of Martial Virtue of the Great Japan. Also in 1935 and for the first time in Japan, the mentioned Association of Martial Virtue of the Great Japan conferred to him title jointly of professor of Karate (KYOSHI) with other two professors. The teachers who received such distinction in that opportunity were: Choyun Miyagi (Founding of the Goju style) Kiyotada Sannosuke Ueshima (founding of the Kushin style) Yasuhiro Konishi (Founding of the style Shindo Shizen) In 1946, to finish of World War II took place the dissolution of the Association of Martial Virtue of the Great Japan. In 1965, the teacher received title of Eighth Give of Judo Kodokan. The teacher Kanamori Kinzyo, professor of the styles Shorin and Goju and professor of Karate of the Ueshima teacher, return to its native Okinawa where he spread the Kushin style. In 1940 the Kinzyo teacher received title of professor of Karate (Renshi) of the Association of Martial Virtue of the Great Japan. The 6 of September of 1987, to the 94 years of age, the teacher Kiyotada Sannosuke Ueshima, founder of the Kushin style, slept the dream of the eternity in the city of Osaka. The second President(Soke) of the Kushin style is Ph. Dr HORYU MATSUZAKI - (translated by yandi -2005)

Falsafah Karate


FILOSOFI HORYU MATSUZAKI

Pendekar, atau sebut saja jago karate tak harus selalu tampil garang. Kalau enggak percaya, silakan tanya Horyu Martsuzaki (67), guru besar Kushin-Ryu Karate-Do, yang punya 1,2 juta murid di 27 provinsi di seluruh Indonesia. "Karate itu seperti celana dalam," ujarnya mengejutkan.

Penulis : Christantiowati

Enggak, Anda tidak salah dengar. Karate memang bak pakaian dalam. Maksudnya, dia melekat pada diri, tapi tak pantas terlihat, apalagi sengaja diperlihatkan. Orang mempelajari ilmu bela diri justru agar tak tampak galak. Di keseharian, ada dua gaya hidup seni bela diri. Pertama, yang mementingkan peningkatan ilmu untuk memahami hakikat hidup dan mencapai jatidiri tertinggi sehingga bersikap rendah hati, dan sebaliknya, yang berniat memanfaatkan ilmu untuk memburu "nama baik" dan nama besar.
"Siapa saja yang ingin menguasai karate, pertama dan terpenting tak iri hati, berburuk sangka, mesti selalu rendah hati, pemurah, berperilaku baik, memelihara ketenangan spiritual, berusaha keras menjadi teladan bagi semua," saran sang sensei yang juga punya murid di Australia, Paraguay, Uruguay, Chile, Argentina, Panama, Timor Leste, Singapura, Malaysia, Jepang, Korea ini.
Saran bijak tadi tertuang di sampul bukunya, Perjuangan Hidup: Hakikat Kushin-Ryu Karate-Do (Primamedia Pustaka, 2006). Sesuai makna karate-do, karate (dasar tangan kosong), do (harus selalu ingat belajar kemanusiaan).
Penguasaan ilmu karate oleh orang tanpa mental mantap bisa fatal. Bila sebatas teknik pukulan dan serangan, itu baru kulitnya. Inti terdalam berarti mempelajari hidup dan manusia itu sendiri. Karate mengenalkan 100 titik lemah tubuh manusia, 44 di antaranya terlemah. Titik lemah berada di pusat otot, daging, pembuluh darah dan saraf. Jika ditinju atau ditendang karate-ka berketerampilan tinggi, bisa meninggal.
Karena tahu betapa berbahayanya titik lemah, bagian ini malah jarang sekali diserang. Kalahkan lawan dengan tenaga seminimal mungkin. Mengalahkan lawan itu penting, tapi menciptakan keadilan dalam bertanding itu lebih penting.
Karate menjembatani penempaan semangat dan jiwa untuk menemukan hakikat watak kita sendiri. Jika tak mengenali diri sendiri, kita tak dapat mengenali musuh. Jadi, pendekar sejati itu menguasai diri sendiri. Kekuatan yang sesungguhnya tak hanya membuat lawan takut tapi juga memberi kesegaran bagi lawan yang dikalahkan. Lawan mengakui kehebatan kita dengan hormat. Lawan tak ingin lagi menyerang. Kita menang tanpa diserang, tanpa perlu melawan.
"Saya belajar karate sejak sembilan tahun. Sampai kini merasa belum benar-benar menguasai intinya. Ini pelajaran sampai mati. Tiada guna banyak ilmu tanpa diterapkan. Dalam karate ada siasat, pura-pura tak kuat supaya lawan lengah, kita menang. Jadi di keseharian, karate membekali raga terlatih, pikiran terjaga. Sesekali marah, gusar, itu wajar. Tapi sebentar saja. Ini proses. Sewaktu muda saya juga sering marah, menggugat Tuhan, ha…ha…. Tapi makin berumur, kita mesti makin bijak. Seperti padi. Makin berisi makin merunduk."


Selaras dengan Alam
Leluhur Jepang menganggap manusia sebagai miniatur alam semesta. Kepala = langit; hidung = gunung; kaki = tanah; mata = matahari & bulan; darah = sungai. Sebagaimana air sungai jadi keruh karena hujan deras dan banjir, darah manusia mengeruh karena perasaan tak stabil hingga merusak kesehatan. Bangsa Jepang sangat dipengaruhi faktor alam dalam mencapai tingkat kehidupan lebih tinggi. Ini mencakup peralihan musim dan berbagai gangguan alam yang justru menuntut bangsa itu bekerja lebih keras untuk mempertahankan dan mengembangkan aneka bentuk kemajuan.
Hijau itu mendamaikan. Lihat saja Indonesia yang alamnya (dulu) sangat hijau, penduduknya 'kan banyak senyum dan tertawa. Bandingkan dengan bangsa-bangsa yang tinggal di gurun dan padang pasir, mereka keras sesuai alamnya, ribut melulu. Jepang yang empat musim juga gelap. Saya senang Indonesia.

Belajar dari Sakura
Karateka bisa rusak atau kalah jika melakukan kesalahan dalam pernapasan, selain percaya diri berlebihan. Belajar karate mesti terbuka dan luwes untuk memaksimalkan potensi dalam mencari dan menemukan teknik baru. Misalnya, alat pemukul bisa pula berfungsi sebagai pemberat 'kan? Teknik bukan benda mati tapi lebih seperti makhluk hidup. Tak boleh bersikap tertutup dan kaku dalam proses mempertajam perasaan dan kepekaan. Sayangilah orang lain dengan sopan santun. Kalau tak menghormati orang berarti tak percaya diri.
Hati yang pantang menyerah merupakan syarat mutlak memenangkan pertandingan. Pertandingan seperti hidup itu sendiri, penuh ketakpastian. Jalani saja di rel etika yang benar. Jiwa tenang, pemusatan pikiran meningkat, yakinlah, semuanya akan berakhir baik. Keberhasilan seseorang sangat ditentukan kepuasan hati. Seperti bunga sakura, saat mekar tanpa pamrih, tanpa beban apa pun, dengan ketulusan dalam memberikan kepuasan dan kekaguman pada tiap orang untuk menikmatinya. Gugurnya bunga sakura akan sangat disayangkan banyak orang. Hidup Sakura itu bak cermin keberhasilan seseorang. Begitu kita mati, orang merasa kehilangan.

Source : Intisari

Friday, October 19, 2007

Sensei Anang Alibasyah

Sensei Anang Alibasyah (Alm) sedang memimpin upacara pada kegiatan Kushin Ryu Karate Do Indonesia di Bandung.
Sensei Anang Alibasyah (the late) leaded the ceremony at the activity of Kushin Ryu Karate Do Indonesia in Bandung.



Sensei Sofyan Hambally (Ketiga dari Kiri) dan Keluarga bersama Soke Horyu Matsuzaki (kelima dari Kiri) berfoto di depan Logo KKI - Cabang Kopo - Jl. Kopo Cetarip Bandung.

Sensei Sofyan Hambally (third from Left) and The Families together with Soke Horyu Matsuzaki (Fifth from the Left) take photos in front of the Logo of KKI at Jl. Kopo Cetarip - Bandung West Java - Indonesia.

Profil Sensei Sofyan Hambally

Sensei Sofyan Hambally

Major (Alm) Anang Alibasyah
(Ayahanda dari Sensei Sofyan Hambally)

Mengenal Kushin Ryu dari sang ayah, Mayor (alm) Anang Alibasyah. Setelah satu tahun Kushin Ryu berkembang di Bandung pada tahun 1966, Sofyan remaja akhirnya memutuskan untuk bergabung latihan di jalan Emong No 11 Bandung, di bawah pelatih Sensei Sinya Matsuzaki. Sofyan lantas masuk menjadi anggota PASUS (Pasukan Khusus) yaitu anggota khusus yang digembleng sebagai calon pelatih dalam pengembangan Kushin Ryu di Indonesia. Anggota ini memang dilatih dengan pola dan aturan yang sangat ketat. Latihan dilaksanakan setiap hari, dari pukul 18.00 hingga 21.00 wib. Terlambat datang ke tempat latihan, berarti hukuman siap menanti dari sang guru. Selama latihan, anggota ini tidak diperkenankan minum tanpa terkecuali. Setiap anggota juga tidak dibenarkan berambut gondrong. Alhasil, rambut para anggota Pasus wajib di plontos.
Gembelangan dari sang ayah dan Matsuzaki kala itu, rupanya menghantarkan Sofyan muda sebagai karateka terbaik saat itu. Pada Turnamen KKI yang dilaksanakan pertama kalinya di GOR Saparua Bandung, tahun 1969, Sofyan berhasil menyabet JUARA BEST of the BEST kelas bebas. Turnament ini disebut-sebut sebagai Kejuaran Karate pertamakalinya di Tanah Air. Aturan pertandingan memang tidak mengenal kelas dan kelompok umur. Siapa pun diperbolehkan bertanding asalkan memiliki kemampuan teknik dan keberanian yang memadai. Karena baru pertama kali digelar, aturan yang digunakan pun belumlah seketat sekarang.
Bersama sang ayah, Sofyan melebarkan pembinaan karate ke sejumlah instansi militer, perusahaan dan lingkungan mahasiswa dan pelajar. Sofyan dikenal sebagai pelatih bertangan dingin. Berbekal pengalaman dan gemblengan langsung Matsuzaki dan sang ayah, Alibasyah, Sofyan mampu menghasilkan karateka-karateka tangguh yang berhasil menancapkan namanya di tingkat nasional hingga dunia. Dari tangannya telah lahir atlet-atlet nasional, seperti Aam Hidayat (Sekarang menjabat Ketua Dewan Guru KKI Jawa Barat), Cucun Mulyana, Aat Tezamahlia, (Tim PON Jawa Barat 1993), Mayor (AL) Siti Mulyaningrum atau lebih dikenal dengan nama Inge (Tim Indonesia di Kejuaran Ladies Cup di Jepang 1994), Eko Hendrawan (Juara Best Of The Best Piala Rudini 1994 – Sekarang Piala Mendagri), Dang Alan (Tim Indonesia ASEAN Games), Dodi Hermawan (Tim Pelatnas), Arifin Alif (Juara I kata perorangan Putra di 1st Asia Goju ryu Karate-do Open Championship, 15-16 juli 2006 di Ipoh, Perak, Malaysia. Dang Aten, Tiwi (Tim Karateka Yunior Jabar untuk Piala Mendagri) hingga Hj. Lia Nurlianty, yang pernah mencatatkan dirinya sebagai Juara 3 dunia Kelas Kumite di Kejuaraan Karate di Manila, Filipina tahun 1997.
Kepada anak-anak didiknya, Sofyan menerapkan pola pembinaan yang menyeluruh. Artinya, para siswanya tidak hanya dibina sekedar mempelajari karate untuk prestasi tapi juga menitikberatkan karate sebagai beladiri yang sesungguhnya. Lewat teknik Kushin Ryu Ju-Jitsu, para siswanya dibekali teknik-teknik beladiri yang mematikan. “Anda boleh saja juara saat ini, tapi jika anda sudah tak lagi memiliki kekuatan itu, lalu apa yang masih tersisa dari anda untuk bisa mempertahankan diri? Apakah sekedar berharap mendapat pertolongan wasit?” begitu pesan yang kerap disampaikan Sofyan kepada para siswanya.
Oleh siswanya, Sofyan dikenal sebagai sosok yang tegas, disiplin dan punya prinsip. Beliau lah yang paling bersuara lantang ketika terjadi kecurangan yang dilakukan oknum PB Forki saat anak didiknya, Lia Nurlianty dijegal saat TC Tim Nasional di Cijantung, Jakarta. Protes kerasnya, akhirnya membuat Luhut Panjaitan, Ketua PB Forki meminta maaf secara terbuka di media massa berkait adanya kecurangan tersebut.
Sikap tegas lainnya ia tunjukan dengan melayangkan pengunduran dirinya sesaat setelah didaulat kembali menjadi Ketua Dewan Guru PP KKI. Alasan, pengunduran diri tersebut lebih terkait karena tidak adanya intervensi yang berlebihan terhadap kewenangan Ketua Dewan Guru.
Jabatan ternyata buat Sofyan bukan segala-galanya. Sebagai guru, ia kini lebih banyak memfokuskan diri untuk menyebarkan ilmu beladiri demi kemaslahatan orang banyak. Hal tersebut dibuktikannya, dengan memberikan Pelatihan Beladiri Praktis kepada Perempuan secara cuma-cuma alias gratis. Menurutnya, kegiatan ini menjadi semacam bentuk pertanggungjawaban sosial Kushin Ryu kepada masyarakat, terutama perempuan yang kerap menjadi korban tindakan kekerasan. (Eko Hendrawan & Yandi WR – KKI Kopo)



Saturday, September 15, 2007

Sensie Sofyan & Sensei Arman Hidayat (Sensei Aam)


Sensei Sofyan Hambally & Sensei Aam hadir dalam acara Ujian Kyu - KKI Cabang Pupuk Kujang Cikampek pada tgl 8 September 2007.

Sensei Sofyan Hambally


Sensei Sofyan Hambally memimpin latihan para anggota Sabuk Hitam KKI Cabang Pupuk Kujang Cikampek pada saat moment ujian kyu para anggota kki cabang Pupuk Kujang di Cikampek (8 September 2007).